Rabu, 13 November 2019

Sayap Sayup Asmarandana


Perjalanan menelusuri naskah kuno tidak berhenti sampai situ, rasanya tidak cukup jika hanya mencari tahu keberadaan naskah kuno itu,  minggu kemarin kami melanjutkan perjalanan untuk mempelajari proses yang disebut dengan nyeput. Kata-kata ini pertama kali penulis dengar karena merupakan budaya sasak yang melekat yang biasanya dibacakan saat prosesi nikahan, khitanan, acara-acara islam seperti Isra Mi’raj dan Maulid. Arti nyeput sendiri yaitu mengambil salah satu naskah kuno yang akan dibacakan, kemudian diterjemahkan makna naskah tersebut yang katanya akan sesuai dengan karakter dan kehidupan orang yang dinyeput. Adapun proses nyeput ini harus dilakukan dengan syarat harus ada daun sirih, beras pati, dan benang atau kapas. Proses nyeput kali ini dilakukan ditempat yang berbeda, karena ditempat sebelumnya untuk menuju kesana banyak kendala yang kami dapati mulai dari cuaca yang tidak menentu, jarak yang cukup jauh dan waktu yang sangat singkat sementara target yang harus dikejar hanya 2 minggu
Akhirnya setelah mencari kebeberapa tempat kami pun menemukan naskah kuno tepatnya di desa Bonjeruk. Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Kami memulai perjalanan dari Mataram setelah solat ashar, kami melewati jalan yang cukup jauh. Setelah sampai di Bonjeruk, kami dijemput oleh Bapak Hasan yang membantu kami menjalani proses nyeput ini karena kami tidak tahu jalan menuju rumahnya, kami disambut hangat oleh kerabat Pak Hasan yaitu Bapak Sahdi yang akan membantunya membacakan naskah tersebut.
Proses yang seharusnya harus memenuhi syarat dengan bahan-bahan itu tidak kami laksanakan, karena bapak Hasan bilang, kita lakukan secara sederhana saja untuk mempersingkat waktunya
Tibalah waktu penulis untuk mencabut salah satu naskah tersebut sambil memejamkan mata, ada dua pilihan naskah yang akan kita ambil yaitu naskah Rengganis atau naskah Juwarsah, dan pilihan penulis jatuh pada naskah Juwarsah. Adapun lontar yang penulis dapatkan yaitu Asmarandane yang berisi watak dan sifat. Penulis sebenarnya tidak mengerti arti dari naskah yang dibacakan karena menggunakan bahasa sasak, tetapi makna yang diungkap dalam naskah tersebut yaitu ”Kamu adalah orang yang pendiam, tetapi dalam diamnya kamu memiliki sifat yang tegas. Apapun yang kamu rencanakan sekarang harus kamu capai dikemudian hari, dalam naskah tersebut juga dikatakan kamu orang yang tidak mudah menyerah, apapun yang kamu inginkan harus bisa kamu capai suatu saat nanti. Dan satu lagi, kamu adalah orang yang keras dalam hal menggapai cita-cita, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang kamu rencanakan”. Begitulah sedikit penjelasan dari Pak Hasan mengenai Tembang Asmarandana yang penulis ambil.



Sebenarnya apapun hasilnya percaya atau tidak percaya, kita hanya bisa mendengarkan dan tugas kita hanya memahami dan mempelajarinya karena semua itu adalah bagian dari posesi budaya yang tidak bisa kita hilangkan. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, karena semata-mata semuanya sudah ada yang mengaturnya.
Demikianlah perjalanan singkat penulis bersama kawan-kawan, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Terima kasih ^^





Foto bersama.