Naskah
Kuno Kawitan dan Lamboh Monyeh
Lombok
dikenal dengan pesona alam dan budaya yang tersebar sangat luas diseluruh
penjuru, mungkin hampir semua sisi Lombok memiliki khasnya masing-masing.
Selain dikenal dengan kekayaan alam dan budaya, ternyata Lombok banyak
menyimpan sejarah-sejarah yang mungkin terlupa dan termakan oleh zaman. Salah
satunya yaitu Naskah Kuno, penulis mencoba mencari dimana biasanya terletak
Naskah Kuno yang tersebar di Lombok, akhirnya penulis berhasil mendapatkan
naskah kuno yang berada tepatnya di desa Lenek Duren, Lombok Timur. Baik, perjalanan
dimulai.
Pada
tanggal 20 Oktober 2019 tepatnya hari minggu yang lalu, penulis bersama dengan rombongan
tim kesebelasan melakukan perjalanan mencari sebuah Naskah Kuno guna memenuhi
rasa penasaran kami untuk mempelajari naskah kuno ini, kami mengunjungi salah
satu tempat yang memiliki sebuah Naskah Kuno tersebut, kami mengunjungi rumah Bapak
Muhammad Adil atau yang lebih akrab dipanggil Amaq Arni, dan bisa juga Papuq
Nadil (68). Beliau sehari-hari biasanya bekerja sebagai petani tetapi beliau
juga sering diminta untuk membawa turis yang datang untuk melakukan pendakian.
Jadi, di rumah Amaq Arni ini lah kami menemukan naskah tersebut.
Amaq
Arni telah memegang amanah untuk memegang naskah kuno dari bapaknya sendiri.
Kemudian Amaq Arni mulai mempelajarinya
sekitar tahun 1976, awal mulanya naskah tersebut dipegang oleh kawan dari bapaknya Amaq Arni, seiring berjalannya
waktu Amaq Arni pun mulai mempelajari naskah tersebut, dengan waktu yang
bersamaan dia menemukan amalan langsung saat belajar mempraktekkannya, ini
disebut sebagai Jahar Satekat. Naskah
kuno tersebut diamalkan secara turun temurun dari keluarga Amaq Arni sendiri
dengan cara bertuturan atau bercakap-cakap dengan membentuk lingkaran duduk
seperti sedang bersilaturahmi. “Tidak hanya keluarga akan tetapi jika ada yang
ingin mempelajari naskah kuno tersebut boleh saja, karena siapapun boleh
mempelajari naskah kuno asalkan kita mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh”
tutur Amaq Arni.
Naskah
tersebut ditulis tangan oleh bapaknya Amaq Arni sendiri dengan tulisan
sansekerta yang dijuluki doa Nongkah Gedung, tidak bisa dilihat pada tahun
berapa tepatnya naskah tersebut ditulis, yang pasti naskah kuno itu telah ada
sejak lama dan ditulis pada daun Lontar dengan tulisan yang tidak sebagus
dengan naskah-naskah yang lain, karena keluarga dari Amaq Arni ini diketahui
tidak bersekolah.
Singkat
cerita, Amaq Arni mengeluarkan dua jenis naskah kuno yaitu Naskah Kawitan dan
Lamban Monyeh yang dimana naskah Kawitan ini berisi tentang doa-doa yang
dibacakan untuk anak kecil yang sedang rewel atau sakit dan dipercaya mampu
untuk menyembuhkannya, sedangkan naskah Lamban Monyeh menceritakan segala isi yang ada di Lombok. Amaq Arni
biasanya diminta untuk membaca naskah-naskah tersebut ketika ada acara nikahan,
isra mi’raj dan acara-acara besar Islam lainnya, gunanya untuk mencari
kesehatan, keselamatan, serta kemakmuran. Naskah ini dibaca harus diiringi
dengan irama Gendang atau alat musik, jika tidak menggunakan alat musik maka
tidak akan kita tidak akan tepat dan benar cara membacanya, sehingga makna yang
tersampaikan tidak jelas oleh para pendengar. Amaq Arni menuturkan bahwa doa-doa
tersebut semuanya telah diturunkan oleh Allah SWT, kemudian manusia diberikan
kewenangan untuk menuliskannya dalam bentuk naskah yang kemudian dipercantik
dengan hiasan-hiasan yang akan menambah nilai kekhasannya.
Jadi,
naskah kuno yang berada di desa Lenek Duren ini berisi banyak sekali doa-doa
serta pedoman bagaimana cara kita untuk hidup dengan lebih baik sampai akhir
zaman. Itulah gunanya Amaq Arni menjelaskan kepada kami pentingnya naskah kuno
ini, Amaq Arni sangat berharap kita sebagai generasi selanjutnya mampu
mempelajari serta mengamalkan apapun isi kandungan yang ada pada naskah kuno
ini.
Terima Kasih.


