Rabu, 23 Oktober 2019

Bahasa Indonesia


Naskah Kuno Kawitan dan Lamboh Monyeh


Lombok dikenal dengan pesona alam dan budaya yang tersebar sangat luas diseluruh penjuru, mungkin hampir semua sisi Lombok memiliki khasnya masing-masing. Selain dikenal dengan kekayaan alam dan budaya, ternyata Lombok banyak menyimpan sejarah-sejarah yang mungkin terlupa dan termakan oleh zaman. Salah satunya yaitu Naskah Kuno, penulis mencoba mencari dimana biasanya terletak Naskah Kuno yang tersebar di Lombok, akhirnya penulis berhasil mendapatkan naskah kuno yang berada tepatnya di desa Lenek Duren, Lombok Timur. Baik, perjalanan dimulai.
Pada tanggal 20 Oktober 2019 tepatnya hari minggu yang lalu, penulis bersama dengan rombongan tim kesebelasan melakukan perjalanan mencari sebuah Naskah Kuno guna memenuhi rasa penasaran kami untuk mempelajari naskah kuno ini, kami mengunjungi salah satu tempat yang memiliki sebuah Naskah Kuno tersebut, kami mengunjungi rumah Bapak Muhammad Adil atau yang lebih akrab dipanggil Amaq Arni, dan bisa juga Papuq Nadil (68). Beliau sehari-hari biasanya bekerja sebagai petani tetapi beliau juga sering diminta untuk membawa turis yang datang untuk melakukan pendakian. Jadi, di rumah Amaq Arni ini lah kami menemukan naskah tersebut.


Amaq Arni telah memegang amanah untuk memegang naskah kuno dari bapaknya sendiri. Kemudian  Amaq Arni mulai mempelajarinya sekitar tahun 1976, awal mulanya naskah tersebut dipegang oleh kawan  dari bapaknya Amaq Arni, seiring berjalannya waktu Amaq Arni pun mulai mempelajari naskah tersebut, dengan waktu yang bersamaan dia menemukan amalan langsung saat belajar mempraktekkannya, ini disebut sebagai Jahar Satekat.  Naskah kuno tersebut diamalkan secara turun temurun dari keluarga Amaq Arni sendiri dengan cara bertuturan atau bercakap-cakap dengan membentuk lingkaran duduk seperti sedang bersilaturahmi. “Tidak hanya keluarga akan tetapi jika ada yang ingin mempelajari naskah kuno tersebut boleh saja, karena siapapun boleh mempelajari naskah kuno asalkan kita mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh” tutur Amaq Arni.
Naskah tersebut ditulis tangan oleh bapaknya Amaq Arni sendiri dengan tulisan sansekerta yang dijuluki doa Nongkah Gedung, tidak bisa dilihat pada tahun berapa tepatnya naskah tersebut ditulis, yang pasti naskah kuno itu telah ada sejak lama dan ditulis pada daun Lontar dengan tulisan yang tidak sebagus dengan naskah-naskah yang lain, karena keluarga dari Amaq Arni ini diketahui tidak bersekolah.
Singkat cerita, Amaq Arni mengeluarkan dua jenis naskah kuno yaitu Naskah Kawitan dan Lamban Monyeh yang dimana naskah Kawitan ini berisi tentang doa-doa yang dibacakan untuk anak kecil yang sedang rewel atau sakit dan dipercaya mampu untuk menyembuhkannya, sedangkan naskah Lamban Monyeh menceritakan  segala isi yang ada di Lombok. Amaq Arni biasanya diminta untuk membaca naskah-naskah tersebut ketika ada acara nikahan, isra mi’raj dan acara-acara besar Islam lainnya, gunanya untuk mencari kesehatan, keselamatan, serta kemakmuran. Naskah ini dibaca harus diiringi dengan irama Gendang atau alat musik, jika tidak menggunakan alat musik maka tidak akan kita tidak akan tepat dan benar cara membacanya, sehingga makna yang tersampaikan tidak jelas oleh para pendengar. Amaq Arni menuturkan bahwa doa-doa tersebut semuanya telah diturunkan oleh Allah SWT, kemudian manusia diberikan kewenangan untuk menuliskannya dalam bentuk naskah yang kemudian dipercantik dengan hiasan-hiasan yang akan menambah nilai kekhasannya.
Jadi, naskah kuno yang berada di desa Lenek Duren ini berisi banyak sekali doa-doa serta pedoman bagaimana cara kita untuk hidup dengan lebih baik sampai akhir zaman. Itulah gunanya Amaq Arni menjelaskan kepada kami pentingnya naskah kuno ini, Amaq Arni sangat berharap kita sebagai generasi selanjutnya mampu mempelajari serta mengamalkan apapun isi kandungan yang ada pada naskah kuno ini. 

Terima Kasih.