Perjalanan
menelusuri naskah kuno tidak berhenti sampai situ, rasanya tidak cukup jika
hanya mencari tahu keberadaan naskah kuno itu,
minggu kemarin kami melanjutkan perjalanan untuk mempelajari proses yang
disebut dengan nyeput. Kata-kata ini
pertama kali penulis dengar karena merupakan budaya sasak yang melekat yang
biasanya dibacakan saat prosesi nikahan, khitanan, acara-acara islam seperti
Isra Mi’raj dan Maulid. Arti nyeput sendiri yaitu mengambil salah satu naskah
kuno yang akan dibacakan, kemudian diterjemahkan makna naskah tersebut yang
katanya akan sesuai dengan karakter dan kehidupan orang yang dinyeput. Adapun
proses nyeput ini harus dilakukan dengan syarat harus ada daun sirih, beras
pati, dan benang atau kapas. Proses nyeput kali ini dilakukan ditempat yang
berbeda, karena ditempat sebelumnya untuk menuju kesana banyak kendala yang
kami dapati mulai dari cuaca yang tidak menentu, jarak yang cukup jauh dan
waktu yang sangat singkat sementara target yang harus dikejar hanya 2 minggu
Akhirnya setelah
mencari kebeberapa tempat kami pun menemukan naskah kuno tepatnya di desa
Bonjeruk. Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Kami memulai perjalanan
dari Mataram setelah solat ashar, kami melewati jalan yang cukup jauh. Setelah sampai
di Bonjeruk, kami dijemput oleh Bapak Hasan yang membantu kami menjalani proses
nyeput ini karena kami tidak tahu jalan menuju rumahnya, kami disambut hangat
oleh kerabat Pak Hasan yaitu Bapak Sahdi yang akan membantunya membacakan
naskah tersebut.
Proses yang seharusnya harus
memenuhi syarat dengan bahan-bahan itu tidak kami laksanakan, karena bapak
Hasan bilang, kita lakukan secara sederhana saja untuk mempersingkat waktunya
Tibalah waktu
penulis untuk mencabut salah satu naskah tersebut sambil memejamkan mata, ada dua
pilihan naskah yang akan kita ambil yaitu naskah Rengganis atau naskah
Juwarsah, dan pilihan penulis jatuh pada naskah Juwarsah. Adapun lontar yang
penulis dapatkan yaitu Asmarandane yang berisi watak dan sifat. Penulis sebenarnya
tidak mengerti arti dari naskah yang dibacakan karena menggunakan bahasa sasak,
tetapi makna yang diungkap dalam naskah tersebut yaitu ”Kamu adalah orang yang
pendiam, tetapi dalam diamnya kamu memiliki sifat yang tegas. Apapun yang kamu
rencanakan sekarang harus kamu capai dikemudian hari, dalam naskah tersebut
juga dikatakan kamu orang yang tidak mudah menyerah, apapun yang kamu inginkan
harus bisa kamu capai suatu saat nanti. Dan satu lagi, kamu adalah orang yang
keras dalam hal menggapai cita-cita, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang
kamu rencanakan”. Begitulah sedikit penjelasan dari Pak Hasan mengenai Tembang
Asmarandana yang penulis ambil.
Sebenarnya
apapun hasilnya percaya atau tidak percaya, kita hanya bisa mendengarkan dan
tugas kita hanya memahami dan mempelajarinya karena semua itu adalah bagian
dari posesi budaya yang tidak bisa kita hilangkan. Kita sebagai manusia hanya
bisa berencana, karena semata-mata semuanya sudah ada yang mengaturnya.
Demikianlah perjalanan singkat
penulis bersama kawan-kawan, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Terima kasih
^^
Foto bersama.




